Dugderan: Ritual Tradisi dari Leluhur sebagai Representasi Kerukunan Masyarakat Semarang

Dugderan: Ritual Tradisi dari Leluhur sebagai Representasi Kerukunan Masyarakat Semarang

5 August 2018 0 By Mbak Ila

Indonesia memang gudangnya wisata yang berdasarkan budaya. Hal ini sebenarnya sangatlah wajar mengingat banyaknya kebudayaan yang menjadi bagian dari Indonesia. Salah satunya adalah tradisi Dugderan yang sangat terkenal di Semarang.

Apa Itu Budaya Dugderan?

Dugderan merupakan sebuah tradisi yang sudah berlangsung sejak lama di Kota Semarang. Tradisi ini digelar dengan tujuan untuk menyambut datangnya bulan Ramadan. Ciri khas dari tradisi ini adalah ritual mengarak Warak Ngendhog yang merupakan hewan fantasi khas yang berasal dari Semarang. Orang-orang yang mengarak Warak Ngendhog tersebut menari sambil bernyanyi. Selain penampilan dari warak yang menarik, penampilan dari orang-orang yang mengarak warak juga tidak kalah menariknya. Mereka mengenakan kostum khusus yang berbeda-beda tiap tahunnya.

Diaraknya Warak Ngendhog tersebut bukan hanya sekedar ritual belaka tapi ada makna simbolis yang tersimpan di baliknya. Ritual ini merepresentasikan kerukunan yang terjadi di Kota Semarang. Bagi Anda yang belum tahu, banyak ras yang menjadi bagian dari masyarakat Kota Semarang dan semua ras tersebut direpresentasikan dalam bentuk Warak Ngendhog. Sebagai contoh, kepala warak yang menyerupai naga merupakan simbol dari warga keturunan Tionghoa. Kemudian tubuh warak yang berupa Buroq merupakan simbol dari warga keturunan Arba. Dan yang terakhir adalah bentuk kaki kambing yang jadi kaki Warak Ngendhog merepresentasikan suku Jawa.

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa ritual ini merupakan bentuk perwujudan persatuan dari warga-warga yang ada di Semarang dan pada saat yang sama, ritual budaya ini juga memasukkan unsur-unsur agama Islam di dalamnya karena diselenggarakan untuk menyambut bulan Ramadan.

Setiap tahunnya, Dugderan memiliki tema-tema yang berbeda-beda dan setiap tahunnya selalu menarik banyak sekali perhatian. Selain orang-orang yang mengarak Warak Ngendhog, di belakangnya masih ada rombongan karnaval yang siap mengiringi. Rombongan ini terdiri dari berbagai elemen masyarakat mulai dari orang-orang yang bekerja di pemerintahan, anak-anak sekolah, sampai rakyat biasa. Rombongan biasanya berjalan menuju masjid Agung yang kemudian ditutup dengan pemukulan bedug. Suara bedug itulah yang menjadi cikal bakal nama tradisi Dugderan.